STORY OF MY LIFE


             BERTAHAN DENGAN SETENGAH HATI
 
Hasil kelulusan telah di berikan, dihati mulaI bimgung  harus melanjutkan pendidikan di mana. Teman-teman sebaya di desaku rata-rata semuanya melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Pertama atau sering di sebut dengan SMP. Ada sedikit keinginan untuk mengikuti  jejak mereka. Tapi tidak begitu untuk bapak dan ibuku. Mereka tidak mengizinkan ku untuk melanjutkan sekolah ke SMP, mereka menginginkan aku untuk melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah kalau tidak ya masuk ke pesantren. Memang begitu adat istiadat dalam keluargaku. Tapi waktu itu aku bisa saja di bilang gaya atau sok atau gimanalahh ... aku tidak mau kalau aku sekolah di MTS biasa yang sama seperti teman-temanku, pikiranku saat itu Cuma satu aku hanya ingin BEDA. Sudah hanya itu saja waktu itu bapak dan ibuku juga bingung mau daftar sekolah dimana. Dan pada suatu ketika ada saudara dari ibukku yang menawarkan untuk ikut masuk ke pesantren Al-Asyriyyah Nurul Iman di parung Bogor. Tambah bingung karena bukan tempat yang dekat dengan daerahku yang saat ini tinggal di Magelang Jawa Tengah.
Tidak lama keputusan harus segera ada antara iya atau tidak karena tanggal-tanggal pendaftaraan sudah hampir habis. Dan akhirnya aku putuskan untuk ikut saudara di pesantren nurul iman tersebut. Yang aku bayangkan aku akan tinggal di dekat kota metropolitan yang saat itu aku masih belum mempunyai banyak pengalaman. Dalam pikiranku akhirnya aku bisa sekolah yang beda dengan teman-teman ku. Waktu itu  Aku berangkat setelah lebaran dikarenakan jarak yang tidak bisa dikatakan dekat. Dua bulan setelah kelulusan aku di rumah tidak ada kegiatan, cukup membosankan sebenarnya tapi ya gimana lagi itu adalah keputusanku, aku harus berani ambil resiko. Lebaran tiba dan dua minggu setelah lebaran aku positif berangkat dengan saudaraku yang disana sudah duduk di bangku SMA.
Aku berangkat waktu itu bulan september tahun 2008 kalo tidak salah, dalam perjalanan aku berfikir apa aku bisa, apa aku mampu berpisah dengan orang tua dan saudara. Sudahlah . . .  aku tepis pikiran itu aku optimis aja. Berangkat ke bogor aku hanya di antar oleh bapakku saja karena posisi ibuku yang sedang mempunyai anak kecil, ya saat itu adikku baru berumur sekitar sati tahun. Berangkat bersama dengan rombongan santri dan santriwati dari Temanggung, Magelang, dan Yogyakarta, menggunakn 3 bus. Banyak teman teman baru yang satu angkatan dengan ku, aku hanya diam saja karena aku memang belum mengenalnya.
Dalam perjalanan, bus yang kutumpangi mengalami gangguan. Aku sendiri tidak tau mesin bus yang sudah tua atu memang sedang apes. Kita mengalami macet mesin di jalan Tol sebelum daerah Cirebon, sekitar pukul  4.30 WIB, sepertinya begitu karena aku sama sekali tidak mengetahui daerah-daerah sana. Aku hanya mendengar bapak-bapak wali sntri yang sedang ngobrol. Si sopir dan kondektur sepertinya panik mencari bantuan karena di situ keadaanya sepi. Beberapa menit kemudian ada bus dari jalur berlawanan yang sanggup membantu. Dan sekitar pukul 8.00 kita melanjutkan perjalan kembali.
Pukul 16.30 kita telah tiba di tempat tujuan, memang waktu yang kita butuhkan cukup lama padahal dua bus yang lain telah tiba sejak tadi. Itu dikarenakan ada kendala di perjalanan. Perjalanan itu cukup melelahkan, bukan hanya aku yang merasa sangat capek tapi semua penumpang juga begitu, karena kita berada dalam perjalanan kurang lebih selama 18 jam, ada pula kendala yang menurutku ini sangat konyol saat dalam perjalanan itu si sopir sempat berhenti dan kondektur turun untuk menanyakan arah menuju ke parung, seharusnya kan mereka sudah berpengalaman atau mungkin masih pekerja baru atau gimana aku juga kurang mengerti.
Saat tiba di pondok, aku dan saudara yang biasa ku panggil “bulek” itu berjalan menuju kamar 05, itu kamar baruku sekarang. Aku terkejut bukan main kamar yang kotor karena saat itu musim hujan,  santri-santri yang tidak berjilbab yang jumlahnya sangaat banyak. Ternyata setelah itu baru aku mengerti karena memang pesantren modern dan memakai jilbab hanya saat sekolah saja. Setelah bapak ku dan wali santri yang mengantar tadi udah pulang aku mulai membersihkan diri setelah itu mengikuti aktifitas pesantren seperti santri yang lain.
Aku belum terbiasa dengan keadaan yang serba antri karena baru kali pertama ini aku masuk pesantren. Setiap hari selalu menangis cengeng memang, ingat dengan keluarga di rumah. Setelah berjalan 35 hari aku mendapatkan panggilan kalau ada paketan dari rumah di Magelang. Ku buka dan kulihat ada amplop putih yang berisi surat. Tak kusadari aku telah meneteskan air mata saat membaca surat yang aku sangat paham itu adalah tulisan ibukku yang kecil-kecil dan rapi. Aku terisak cukup lama, surat yang isinya aku sangat dirindukan oleh ibukku, bapak, kakak dan saudara-saudara di magelang. Ibukku bilang dalam surat itu aku harus kuat aku harus bertahan karena memang ini sedang saatnya aku untuk berjuang, setiap yang menanam pasti besok akan menuai. Aku percaya itu, aku ingin sekali membanggakan orang tua. Aku masih saja menangis Bulekku hanya menatapku dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia sudah tau kalau santri baru memang begitu.
 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan tiba disitu hari peringatan Maulid Nabi. Bapakku menjengukku bersama dengan ibuk dan adikku satu-satunya saat itu. Aku merasa terharu air matakupun menetes. Rasanya ingin sekali aku pulang bersama mereka, tapi aku ingat kata-kata bulekku tadi sebelum aku bertemu bapak ibukku, dia bilang nanti kalau ditanya ibukke betah apa enggak kamu bilang aja betah biar ibukke seneng. Dan akhirnya aku urungkan niatku itu. Jam penjengukan telah habis dan dengan berat hati aku relakan mereka pulang. Nangis lagi, air mata lagii . . . tapi aku tetap bersabar, aku selalu memohon dengan Allah agar aku betah disini, bisa menjadi seperti ustadzah ustadzah di sini. Amiin ...
Semoga apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat bagi para pembaca, SEKIAN

Komentar

Postingan Populer